Cara belajar anak-anak pertama adalah dengan meniru. Bukankah para ahlil mengatakan bahwa anak-anak kita mendapatkan 90 persen perilaku dan nilai mereka dari kita. “What they see is what they do,” demikian kata para psikolog perkembangan anak. Cetak biru (blue- print) anak-anak untuk menjadi manusia di planet bumi ini berasal dari orangtua mereka. Anak-anak akan menyerap perilaku, sikap, dan bahasa setiap saat dalam hidup mereka. Orangtua senantiasa menjadi teladan bagi mereka. Keteladanan adalah salah satu sarana mengasuh anak terpenting namun sederhana, yang bisa digunakan orangtua. Karena itu, “Jika di rumah tidak ada teladan dan respons positif, anak-anak kita pasti mencari teladan di sekolah, di televisi, atau di jalanan,” demikian Steven W. Fannoy.
Lalu, bagaimana kalau di sekolah, di televisi, atau di masyarakat juga tak ada figur yang bisa dijadikan teladan? Ke mana anak-anak akan merujukkan tindakannya? Dan, anak-anak seperti apa yang bakal lahir kalau mereka dibesarkan tanpa panutan atau sandaran nilai dan moral dalam kehidupan yang keras ini?
Kini, banyak pakar berbicara tentang “krisis kebudayaan” (cultural crisis), ketika muncul kesenjangan yang lebar antara kata dan tindakan. Betapa ironis, kini “figur fublik” bermunculan bagai jamur di musim hujan, tapi dengan berat hati kita katakan betapa masih sering kita melihat pernyataan mereka tak jarang bertolak belakang dengan perilaku mereka. Cobalah lihat komentar elit politik kita akhir ini. Tak heran, kalau ada yang bilang bahwa kita kini tengah mengalami “krisis keteladanan”. Bukankah anak-anak muda sekarang tengah kehilangan “examplary centre”, karena nyaris tak ada tokoh atau figur yang bisa dijadikan contoh atau teladan dalam bertindak dan berperilaku. Tak heran pula kalau kita juga mengalami krisis yang sering dibilang sebagai “generation gap”, kesenjangan antar generasi yang kian lebar. Inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab hilangnya rasa hormat dan saling percaya di antara generasi muda dan generasi tua.
Melihat kenyataan itu, sedemikian muramkah dunia anak-anak kini dan di masa datang? Tentu saja, kita masih punya harapan. Bukankah begitu banyak orang meromantisir bahwa anak-anak itu adalah makhluk murni yang datang dari surga, sebagai wujud cinta kasih Tuhan di dunia. Semua itu tentu saja adalah metafora untuk menunjukkan bahwa dengan kehadiran anak-anak, dunia ini bisa dihiasi dengan cinta dan saling pengertian.
Seperti kata-kata psikolog humanis, Erich Fromm, penulis The Art of Loving: “Without love, humanity could not exist for a day.” Tanpa cinta, kemanusiaan takkan ada sekalipun hanya sehari. Karena itu, “Jika orangtua bisa berbicara dan bertindak lebih karena cinta, anak-anak mereka juga akan belajar untuk mendengar; tidak hanya karena orangtua mereka, melainkan juga karena perasaan cinta dalam hati mereka. Sehingga mereka termotivasi, bukan karena takut, tapi karena cinta,” demikianlah ujar Dr. John Gray, dalam bukunya yang menawan, Children from are Heaven (1999).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar